Indonesia Memiliki Sumber Daya Alam yang Melimpah Sebagai Keunggulan Komparatif Bangsa

Jakarta, Koranpelita.id

Aliansi Kebangsaan merayakan hari jadinya yang ke-14, pada peringatan HUT tersebut, Aliansi Kebangsaan berfokus pada ranah tata sejahtera dengan mengambil tema Transformasi Perekonomian Indonesia melalui Ekonomi Pengetahuan menuju Kemakmuran yang Inklusif. Tema ini diakui Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo penting untuk diangkat mengingat Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah sebagai keunggulan komparatif bangsa, namun sampai saat ini belum mampu memberikan nilai tambah menjadi keunggulan kompetitif dan mensejahterakan rakyat Indonesia.

Dalam sambutannya Pontjo Sutowo menyampaikan sejak awal berdiri, Aliansi Kebangsaan menaruh perhatian besar pada pembangunan manusia karena harus diakui bahwa pembangunan dimensi ini memang relative tertinggal dibanding pembangunan bidang lain seperti politik, ekonomi dan infrastruktur.

Hal ini bisa dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia, Indeks Kesehatan, Indeks Pendiidikan dan lainnya. Publikasi dari UNDP pada November 2023 menunjukkan IMP Indonesia pada skor 74,39, masih berada pada urutan 112 dari 193 negara yang diteliti.

Menurut Pontjo, untuk membangun kebangsaan sudah seharusnya pembangunan manusia Indonesia menjadi pusat perhatian pembangunan nasional. Dan paradigma Pembangunan saat ini sudah mengarah menjadi people centered development yang menempatkan manusia sebagai subyek, actor, pengendali maupun penerima manfaat pembangunan itu sendiri.

Aliansi Kebangsaan bekerja sama dengan Forum Rektor, AIPI, Asosiasi Ilmu Politik Indonesia, FKPPI, HIMPI dan media Kompas, lanjut Pontjo sudah tiga tahun ini mencoba mengembangkan kerangka operasional (paradigma) Pembangunan peradaban bangsa berdasarkan Pancasila dalam tiga ranah kehidupan sosial yaitu ranah mental kultural (tata nilai), ranah institusional political (tata kelola) dan ranah material teknological (tata sejahtera).

Ia juga menjelaskan, Aliansi Kebangsaan ikut mendorong peningkatan nilai tambah ekonomi bagi pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki dengan memanfaatkan sains, teknologi, dan inovasi. “Sebagai bentuk apresiasi terhadap para pelaku UMKM yang telah menunjukkan kinerja mengagumkan dengan berbagai inovasi dan kreativitasnya, pada kesempatan peringatan Ulang Tahun ke-14 ini, Aliansi Kebangsaan memfasilitasi UMKM untuk mengenalkan produk-produk inovasinya,” ujar Pontjo saat memberikan sambutan pada peringatan HUT ke-14 Aliansi Kebangsaan yang digelar di Jakarta pada Selasa (29/10/2024). Hadir Menteri Agama Nazarudin Umar, pengusaha Aburizal Bakrie, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof. Daniel Murdiyarso, Ketua KADIN Anindya Bakrie dan lainnya.

Ketua Aliansi Pontjo Sutowo (tengah) saat memotong tumpeng  pada peringatan HUT ke-14 Aliansi Kebangsaan. (foto: koranpelita)

Pembangunan manusia

Aliansi Kebangsaan menaruh perhatian besar pada pembangunan manusia karena harus diakui bahwa pembangunan dimensi ini memang relatif tertinggal dengan pembangunan pada bidang-bidang lainnya seperti pembangunan politik, ekonomi, infrastruktur. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai indeks yang selama ini digunakan untuk mengukur pembangunan manusia seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Kesehatan, Indeks Pendidikan.

“Yang pelu kita sadari bersama, bahwa pembangunan manusia Indonesia tentu tidak terbatas pada dimensinya sebagai manusia individu dalam rangka memperbaiki kehidupannya, namun lebih jauh dari itu yaitu membangun manusia Indonesia dalam dimensinya sebagai warga masyarakat, warga bangsa, dan warga Negara agar mengerti hak dan kewajibannya sebagai warga negara yang baik, dalam rangka tumbuh dan berkembang bersama dalam kebhinekaan, sebagai suatu bangsa yang majemuk,” tegas Pontjo.

Sama halnya dengan Aliansi Kebangsaan, AIPI lanjut Prof Daniel juga terus mendorong pembangunan nasional tidak lagi berbasis pada sumber daya alam tetapi lebih kepada pengetahuan dan teknologi. “AIPI terus mengawal dan mempromosikan ilmu pengetahuan sehingga kita bisa mendorong pembangunan ekonomi bangsa ini dengan berbasis pengetahuan. Dan itu pula yang dilakukan Aliansi Kebangsaan,” tambahnya.

Pernyataan senada juga disampaikan Ketua AIPI Prof Daniel Murdiyarso. Menurutnya AIPI sudah beberapa tahun bekerja sama dengan Aliansi Kebangsaan dalam beberapa aspek. “AIPI sebagai kumpulan intelektual daan ilmuwan, memiliki pemikiran yang sejalan dengan Aliansi Kebangsaan yakni mengawal perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia,” katanya.

Pengusaha Aburizal Bakrie juga memiliki pandangan serupa. Menurutnya iklim usaha di Indonesia saat ini kurang sehat karena dunia usaha terlalu banyak dicampuri urusan politik. “Harusnya orang yang punya ketrampilan dan pengetahuan yang menang. Tetapi kini malah sebaliknya,” kata Aburizal Bakrie

Ia mengingatkan jika kondisi seperti sekarang ini tidak segera dibenahi maka Indonesia tidak mungkin dapat menjadi negara yang maju. Karena kita tidak mungkin bersaing dengan negara lain tanpa menguasai ilmu pengetahuan baik bidang ekonomi, keuangan, teknologi dan bidang lainnya.“Saya berharap Aliansi Kebangsaan bisa memberikan solusi dan pemikirannya. Dan pemikiran itu harus sampai ke presiden,” tambah Aburizal Bakrie.

Sementara itu Kepala Badan Riset Nasional (BRIN) period 2019-2021 Prof Bambang Brodjonegoro dalam orasi ilmiahnya juga mengingatkan bahwa untuk mencapai Indonesia Emas dimana Indonesia menjadi negara maju bukanlah hal yang mudah. Bukti dan fakta menunjukkan sebagian besar negara di dunia telah gagal keluar dari jebakan middle income trap yang pada akhirnya membuat negara tersebut tetap miskin bahkan bangkrut.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie saat menyampaikan orasi kebangsaannya mengatakan, ada tiga hal yang membuat dunia usaha optimistis pada Pemerintahan Prabowo – Gibran, yaitu peace (kedamaian), stability (stabilitas) dan continuity (keberlanjutan).

Di sisi lain, Anindya mengatakan bahwa negara lain belum tentu memiliki tiga hal tersebut dalam dunia usaha. Jika suatu negara mengatakan peaceful, belum tentu negara tersebut stabil. “Nah, lucunya negara-negara lain itu belum tentu punya ketiga hal itu bersamaan. Enggak semua negara bisa mengatakan peaceful. Ada yang bisa mengatakan peaceful, gak bisa semua negara mengatakan stabil,” ujar Anindya Bakrie.

Ia pun mencontohkan negara Amerika Serikat yang belum tentu memiliki tiga optimisme dunia usaha usai pemilu yang akan digelar 5 November 2024 mendatang.”Tidak usah jauh-jauh, negara yang kuat seperti Amerika, belum tentu November 5 nanti, sehabis pemilihan menurut saya hasilnya akan ketat, bisa dibilang stabil,” ujarnya.

Selain itu, Anindya juga menyinggung continuity dalam rangka menyongsong Indonesia Emas, salah satunya ialah masa transisi kepemimpinan dari Jokowi ke Presiden Prabowo berjalan dengan baik. (Vin)

Exit mobile version